fluktuatif

bingung bagaimana membahasakannya karena kalau dijabarkan akan semakin membuat saya terlihat pathetic.
tuhan pasti punya maksud dari semua ke-fluktuatif-an ini.
saya cuma bisa menunggu dengan sabar sampai titik dimana grafik itu kembali ke nilai maksimal.
ya, kuncinya cuma satu, yaitu sabar, seperti yang sering “dia” ucapkan…

terimakasih

terimakasih, Tuhan Allah Pencipta Semesta Alam, hari ini aku bahagia.

end of the rainbow

bukan. itu bukan kata-kata yang dihasilkan oleh daya pikir saya. itu juga bukan quote-quote galau yang saya copy dan saya gunakan sebagai judul dari posting kali ini. end of the rainbow itu judul lagu dari seorang penyanyi jazz indonesia, sandhy sondoro, yang kini menjadi lagu kesukaan saya, disamping lagu dia dia dia yang dipopulerkan oleh mantan civitas akademia universitas indonesia, afgansyah reza.

awal mula saya menyukai lagu end of the rainbow tidak lain tidak bukan karena melodinya yang adem, adem di kuping dan di hati. rasanya nyaman sekali, seperti lagu pengantar tidur. tapi setelah saya dengar-dengar lagi, bukan hanya melodinya saja yang membuat nyaman hati dan telinga, tapi liriknya tidak kalah menarik. coba saya salinkan liriknya…

And now… I promise you
That I will so… so close to you
Like you want me too
Like I want it too
And now I think I’m in love with you
And…this scenes got my eyes on you
For the first time yee for the first time

And now… I’ll pick up the star for you
If you love me too if you love me too
I know I’ll fly you to the sky over the seven sky
If you love me too

And now… don’t know what to do
You got me drown so deep into
Into you… so deep into you

And now… I’ll pick up the star for you
If you love me too if you love me too
I know… I’ll fly you to the sky till the end of the raindow
End of the rainbow

Little by little pass your life embrace your heart
Light my love melt into your soul
Into your soul
That my love that your life embrace your heart
melt into your soul
End of the rainbow
Over the seven sky

kalau boleh jujur, jujur apa yang sedang saya alami saat ini sangat berkebalikan dari isi lagu tersebut. saya tidak sedang jatuh cinta atau sedang dibawa terbang ke langit ketujuh, tidak sama sekali. justru saya sekarang sedang terjun bebas ke palung laut yang dalam, terhempas dan terjerumus. cukup. kembali ke topik awal. ya, saya sangat merekomendasikan lagu ini. sangat baik untuk telinga dan hati. bisa juga untuk dijadikan obat pelipur lara, karena lagu ini bisa menginspirasikan anda akan sebuah mimpi baru, mimpi yang harus anda rajut setelah pelangi itu berakhir.

BENAR! That’s why it called end of the rainbow!!!

describing myself in 140 characters

saya bingung jika harus mendeskripsikan diri saya dalam 140 karakter. bukannya tidak cukup, justru menurut saya 140 karakter itu terlalu berlebihan. mengapa? karena sebenarnya, menurut saya, diri saya bisa dideskripsikan hanya dengan empat karakter. UNIK. sudah, cukup.

saya itu unik. saya tidak punya kulit putih susu seperti yang dimiliki gadis-gadis yang sering muncul di televisi. saya tidak punya tubuh tinggi seperti galah, saya tidak punya hidung mancung seperti pinokio, dan saya juga tidak punya bodi seksi seperti angelina jolie.

saya itu unik. saya tidak luar biasa jenius seperti einstein. saya tidak luar biasa fenomenal seperti marilin monroe, dan saya juga tidak luar biasa populer seperti anggota band super junior.

saya itu unik. saya tidak berharta melimpah seperti bill gates. saya tidak berumah mewah seperti ronaldinho, dan saya juga tidak bermobil selusin seperti raffi ahmad.

saya itu unik. saya hanya punya tuhan saya. saya hanya punya keluarga saya. saya hanya punya sahabat-sahabat saya. saya hanya punya orang-orang di sekeliling saya yang menerima keberadaan saya.

saya itu unik. saya merasa nyaman hidup dengan segala kesederhanaan saya. saya merasa bahagia meskipun hanya berbagi tawa canda dengan orang-orang terdekat saya. saya merasa biasa-biasa saja meskipun ada orang yang berusaha meliciki saya.

saya itu unik. karena saya memiliki ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan yang saya sebutkan tadi.

saya itu unik. karena dari sekian banyak raga manusia di muka bumi ini, hanya satu raga yang jiwa saya singgahi. yaitu saya sendiri.

saya itu unik. sudah. cukup.

think rationally

kenapa keinginan ego suka bertentangan dengan realitas? di satu sisi, saya ingin keinginan egois saya bisa terwujud, tapi di sisi lain realitas menunjukkan sinyal-sinyal negatif. bingung. mau bersikukuh tetap mempertahankan ego pun rasanya sulit sekali. andai saja saya tipe orang egois yang bisa dengan segala cara memutarbalikkan realita.

saya memang bukan orang yang egois, namun saya orang yang kaku. terlalu larut dalam perasaan dan keadaan. tidak fleksibel. ya, saya rasa harus mulai mengubahnya dari sekarang. mulai mengubah pola pikir yang lebih fleksibel agar tidak mudah patah.

bagaimana caranya?
mungkin mulai dengan berpikir rasional dan mengurangi intensitas berkhayal. haha. entah kenapa pernyataan terakhir terdengar (sedikit) menyedihkan.

sublimasi

Hidup akan semakin terasa berat ketika kau sadar bahwa segala hal yang semula kau harapkan tampaknya akan menguap begitu saja. saya sedang berada di situasi itu sekarang. hopeless.

selama ini saya telah cukup bersabar, menanti titik dimana ia bisa mencair. tapi sepertinya saya tidak bisa mencapai titik itu. nyatanya hingga saat ini ia tetap membeku. entah siapa yang mampu mencairkannya, yang pasti bukan saya.

walaupun demikian, saya yakin ia pasti akan menemukan titik dimana ia bisa mencair. tapi entah kapan. mungkin seratus dekade lagi.

jika demikian, maaf, saya tidak mampu untuk menunggu selama itu.

useless

pekerjaan yang paling menyebalkan adalah mencari jarum dalam jerami.
kita tahu bahwa jarum itu ada, namun kita tidak bisa menemukannya dalam tumpukan jerami tersebut.
semoga kita tidak mengalami kondisi yang demikian.
karena itu sama saja seperti ‘terjangkau’ tapi ‘tak teraih’.

Tegar Baja Putra Alam

hidup ini benar-benar tidak bisa ditebak. selama kita masih bernapas dan menginjakkan kaki di dunia, selama itu pula kita tidak tau mau dibawa kemana akhir cerita hidup kita ini. semuanya tergantung waktu dan bagaimana kita menyikapi hidup.

sahabat saya, thyko, dulu pernah hampir menyerah mengikuti permainan waktu. dulu ia hampir menyerah menunggu akhir cerita hidupnya. dulu ia hampir menyerah pada keadaan.
tapi itu dulu. sekarang saya bangga melihatnya bisa kembali berdiri tegar menghadapi semua konsekuensi dari segala apa yang pernah ia lakukan dalam hidupnya. ibaratnya tinta yang dituliskan di sehelai kertas putih, segala coretan yang ditorehkan dalam hidup tidak dapat dihapus, namun masih bisa dikoreksi. itulah mengapa selalu ada kesempatan kedua dalam hidup ini.

Tegar Baja Putra Alam. sebentuk malaikat kecil tak berdosa yang kini menjadi kekuatannya untuk kembali menghadapi permainan “jumanji” kehidupan ini. namun nyawanya kini bertambah satu. semoga dengan dua nyawa ini ia dapat menang di akhir nanti.

terus berjuang, sahabat… titip cubit buat Tegar🙂

long black coat

Saya merasa sedikit iri melihat display picture messanger seorang sahabat dekat saya. Disitu ia terlihat sumringah, berpose setengah melompat dengan jubah hitam panjang. Jubah yang menjadi incaran setiap mahasiswa. Jubah kelulusan.

Impian saya, jubah itu harus juga bisa saya kenakan secepatnya. Saya tidak mau menunda-nunda dan menoleransi waktu. Target saya, sebelum dunia berakhir menurut ramalan suku Maya, saya harus sudah memiliki jubah tersebut. Memakainya lengkap dengan topi segi lima, berpose dengan senyum lebar sambil menggenggam sebuah gulungan kertas di tangan kanan saya. Saat itu pasti akan segera tiba. Pasti!

Oiya, semoga saat saya berpose seperti itu, ada seseorang spesial yang berdiri tegap di samping saya dan tersenyum manis. Siapa orang tersebut? Semoga ia orang yang menjadi inspirasi saya untuk membuat blog ini. Tidak perlu saya beritahu, kalian semua pasti tau😀

thinking, than typing

Menurut pepatah lama, senjata paling membunuh itu bukanlah pedang bermata dua, melainkan lidah yang tidak bertulang. Namun, seiring berkembangnya zaman dan teknologi, senjata yang paling membunuh itu adalah kedua jempol yang kau miliki. Apalagi di era maraknya internet dan situs jejaring sosial, jempol memiliki pengaruh yang sangat kuat. Karena kata-kata yang kau hasilkan melalui kedua jempol itu, bisa jauh lebih membunuh daripada kata-kata yang dapat kau hasilkan dari lidahmu.

Be aware with your thumbs, dude. Tidak semua orang bisa mengerti kata-kata yang kau tuliskan dengan kedua jempolmu. Dan tidak semua orang bisa memahami bahwa tulisan mu itu hanya berupa kelakar belaka. Jadi, berhati-hatilah.

Previous Older Entries

Blog Stats

  • 720 hits